Tampilkan postingan dengan label Islamia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islamia. Tampilkan semua postingan
Minggu, 16 Oktober 2016
Kamis, 28 April 2016
Dakwah: Kewajiban Setiap Muslim
Ketika kita mendengar kata dakwah, bayangan kita mungkin menuju kepada Jamaah Tabligh. “Dakwah 'kan hanya tugasnya para da'i!”, tolak sebagian kaum muslim. Benarkah?
Kewajiban Yang Terlupa
Dakwah berasal dari kata da'aa – yad'uu yang artinya ”mengajak”
atau ”menyeru”. Secara terminologis, dakwah adalah mengajak atau
menyeru manusia agar menempuh kehidupan ini di jalan Allah Swt,
berdasarkan ayat Al-Quran:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ“ Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik...” (QS. An-Nahl:125).
Setiap perkataan,
pemikiran, atau perbuatan yang secara eksplisit ataupun implisit
mengajak orang ke arah kebaikan (dalam perspektif Islam), perbuatan
baik, amal saleh, atau menuju kebenaran dalam bingkai ajaran Islam,
dapat disebut dakwah.
Dalam perspektif komunikasi,
dakwah termasuk dalam kategori komunikasi persuasif, yakni komunikasi
yang bersifat membujuk, mengajak, atau merayu, semakna dengan makna
dasar dakwah, yakni mengajak atau menyeru. Dengan kata lain, seperti
iklan komersial yang mengajak orang untuk membeli barang. Bedanya,
dakwah itu bagaikan 'iklan' yang mengajak orang untuk mengikuti jalan
Allah: Al-Qur'an dan Sunnah.
Tugas Setiap Muslim
Dakwah bukan hanya tugas seorang
da'i.
Dakwah
juga tidak harus menunggu seseorang memiliki ilmu agama yang
mendalam. Ilmu sekecil apapun yang kita miliki bisa menjadi materi
dakwah.
Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
بَلِّغُوْا عَنِّيْ وَلَوْ آيَةً (رواه البخاري)Sampaikanlah (apapun) dariku, walaupun hanya sepotong ayat. (HR Bukari)
Rasul
shallallahu 'alaihi wasallam dalam hadis ini menjelaskan pentingnya
perintah menyampaikan Islam sebanyak yang kita tahu, walaupun hanya
satu ayat.
Satu
ayat itu hal yang kecil, sedikit, dan sangat mudah.
Tetapi,
Nabi tetap memandang sesuatu yang kecil itu HARUS disampaikan.
Tepatnya, ilmu apapun yang kita miliki tentang kebenaran, apalagi
masalah agama, sampaikanlah kepada orang lain. Atau dengan kata lain,
'BERDAKWAHLAH'!
Kita
hanya tahu satu hadis, sampaikan!
Kita
hanya tahu cara wudlu yang benar, sampaikan!
Kita
hanya tahu shaf itu harus rapat, sampaikan!
Kita
hanya tahu belajar menuntut ilmu itu wajib, sampaikan!
Kita
hanya tahu laki-laki itu wajib shalat 5 waktu di masjid, sampaikan!
Sekecil
apapun itu, selama itu bernilai kebenaran, sampaikanlah kepada orang
lain. Menyampaikan kepada orang lain itu adalah misi utama dari
DAKWAH.
Lalu,
APA HUKUMNYA?
Hukum
dakwah bagi yang mengetahui kebenaran adalah WAJIB.
Jangan
putus asa dulu, baca terus...
Akibat Dakwah Berhenti
Kalau
kita pikir-pikir kembali, orang Barat mati dalam keadaan kafir itu,
bukan kesalahan mereka sendiri.
Mereka
kafir karena (mungkin) mereka belum mengenal Islam.
Mereka
kafir karena (mungkin juga) mereka tahu Islam, tapi dalam
gambaran yang salah dari media massa.
Mereka
kafir karena (mungkin) tidak ada yang mengenalkan dan
mengajarkan mereka Islam yang sesungguhnya.
Ketahuilah,
kata (mungkin) di atas lebih tepat diganti menjadi SEBENARNYA!
Islam
sekarang ini diuji dengan fitnah yang sangat berat. Barat mendengar
Islam yang identik dengan kata: teroris, kejam terhadap perempuan,
fundamental, radikal, sadis, brutal, dan sentimen negatif lainnya.
Sayangnya,
masyarakat Barat hanya menjadi konsumen berita yang hanya menerima
dan mengiyakan saja informasi di atas. Banyak dari mereka yang
langsung percaya tanpa klarifikasi dan cek ulang terhadap informasi
yang mereka dengar. Akhirnya, mereka pun tidak mengenal Islam, atau,
mengenal Islam tapi dalam gambaran yang salah.
Mereka
salah, dong?
Tidak.
Kita juga salah!
Jika
dakwah kita mampu menyaingi derasnya arus media yang salah dalam
menggambarkan Islam, pasti masyarakat Barat tidak akan salah paham
terhadap Islam. Sekarang pertanyaannya: mana yang lebih deras, dakwah
Islam yang benar ATAU media yang penuh dengan fitnah?
Tentu,
dakwah kalah deras.
Dakwah
sekarang ini kalah karena tidak ada yang mau memperjuangkannya. Umat
Islam merasa bahwa dakwah hanyalah tugas para ulama cendekia.
Sedangkan, umat Islam dengan ilmu pas-pasan tidak berkewajiban untuk
berdakwah. Padahal, itu adalah kewajiban SETIAP muslim.
Jadi,
masih menolak kewajiban dakwah?
Cara Berdakwah
Dakwah
memiliki banyak sekali ragam dan bentuk.
Dakwah
tidak melulu berupa pidato panjang lebar di depan publik. Dakwah
secara garis besar memiliki 3 macam utama:
-
Dakwah bil-qoul دعوة بالقوول
-
Dakwah bil-hal دعوة بالحال
Pertama,
dakwah bil-qoul. Artinya adalah mengajak dengan lisan. Nasihat,
pidato, sindiran, ajakan adalah bentuk dari dakwah yang pertama ini.
Tentunya, pendakwah harus mampu menyampaikannya dengan cara yang
tepat kepada orang yang tepat di saat yang tepat. Kesalahan metode
dalam berdakwah akan berujung pada kegagalan.
Kedua,
dakwah bil-hal. Artinya dakwah dengan perbuatan, aksi, dan tindakan
yang nyata. Hal ini merupakan tindak lanjut dari dakwah yang pertama.
Sangat sia-sia dan mengecewakan, kita menyeru pergi ke masjid,
sementara kita masih shalat jamaah di kamar. Dakwah ini juga memiliki
pengaruh yang sangat besar terhadap penerima dakwah, meskipun tidak
didahului dengan dakwah dengan lisan.
Ringkasnya,
dakwah memiliki banyak cara yang bisa kita tempuh.
Shalat
di masjid berjamaah tepat waktu adalah dakwah bagi teman sekamar.
Berkata
lemah lembut dan berbuat baik adalah dakwah yang efektif terhadap
non-muslim yang lebih tua.
Mengucapkan
salam adalah dakwah yang paling mudah ketika bertemu teman di jalan.
Dakwah
itu mudah, bukan?
Metode Dakwah ala Qur'an
Qur'an
telah mengajarkan dari ayat pertama di atas:
“ Serulah
(manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan
pelajaran yang baik (mau'izoh hasanah) dan
bantahlah (debat) mereka dengan
cara yang baik...” (QS. An-Nahl:125).
Ada
3 cara di atas:
-
Hikmah
-
Mauizoh Hasanah
-
Mujadalah
Metode pertama,
hikmah, adalah menyampaikan 'ucapan yang tepat dan benar'
serta dapat diterima oleh rasio/akal. Cara ini tepat untuk
orang-orang intelektual yang berpikir kritis.
Mauizoh hasanah,
merupakan ajakan dan nasihat yang baik, lemah-lembut, dapat menyentuh
hati dan perasaan, serta mudah dipahami. Metode ini sangat cocok
untuk orang awam, yang belum dapat berpikir kritis dan mendalam. Di
antara bentuknya adalah motivasi, pujian, dan peringatan.
Terakhir, mujadalah,
yang artinya adalah bertukar
pikiran, dialog, diskusi, atau debat guna mendorong supaya berpikir
secara sehat dan menerima kebenaran (Islam) dengan cara menyampaikan
argumentasi yang lebih baik untuk mengatasi argumentasi lawan debat.
Cara demikian cocok buat golongan yang tingkat kecerdasannya di
antara kedua golongan tersebut. Perdebatan disampaikan dengan cara
yang lembut, bukan cara yang keras dan kasar.
Dalam
hadis nabi juga mengajarkan cara berdakwah:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ ، وَذَلكَ أَضْعَفُ الِإيْمَانِ
- رواه مسلم -“Barang siapa di antara kamu yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan tangannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan lisannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah dengan hatinya, dan itulah keimanan yang paling lemah.” (HR. Muslim no. 49)
Tangan artinya
kekuasaan dari seorang pemimpin atau pihak berwenang.
Lisan artinya dengan
ucapan, tulisan, artikel, demonstrasi, spanduk, poster, dan media
lain.
Hati artinya tidak
menyetujui kemungkaran dalam kalbu, tetapi tidak memiliki kekuatan mengubahnya
dengan tangan maupun lisan.
Dakwah Modern
Media
dakwah sekarang tidak hanya terbatas pada lisan dan hubungan langsung
antar manusia. Melalui media modern kita bisa berdakwah dengan mudah,
bahkan dengan jangkauan yang lebih luas.
Jenis
media modern di antaranya:
-
Media AudioRadio, podcast, lagu, nasyid, rekaman ceramah, telefon, interkom, pengeras suara.
-
Media VisualTelevisi, film, iklan, sinetron, short-movie, video.
-
Media CetakKoran, majalah, tabloid, buletin, poster, stiker, banner, baliho, mading, buku.
-
Media OnlineFacebook, Twitter, website, mailing-list, streaming (ceramah/radio/TV), e-mail, blog, chat Skype.
Media
di atas bisa kita manfaatkan sebagai alternatif dari pidato dan
ceramah di masjid, majlis taklim, balai pertemuan, atau tempat publik
lainnya.
Jadi?
Manusia
modern punya banyak cara dalam berdakwah. Tidak ada lagi alasan untuk
menolak untuk berdakwah. Ini adalah kewajiban untuk setiap muslim
yang harus disampaikan, sekecil apapun itu.
Semua
macam dakwah memiliki 2 pesan utama: Amar Ma'ruf dan Nahi Mungkar.
Menyeru
dan menyuruh kepada hal yang ma'ruf (kebaikan), serta melarang
dan mencegah dari hal yang mungkar (keburukan).
Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam menegaskan:
"Barangsiapa yang menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti orang yang mengerjakannya" (H.R. Muslim)"Bahwasanya manusia itu bila mengetahui orang berbuat zalim kemudian mereka tidak mengambil tindakan, maka Allah akan meratakan siksaan kepada mereka semua" (H.R. Abu Daud, Tirmidzi dan Nasa'i)."Demi Tuhan yang jiwaku berada dalam kekuasaan-Nya, kamu harus sungguh-sungguh menyuruh kebaikan dan mencegah kemunkaran, kalau tidak Allah akan menurunkan siksaan kepadamu, kemudian kamu berdoa kepadaNya, maka tidak akan dikabulkan doamu itu" (H.R. Tirmidzi).
Akhir
kata, kita kutip kata dari sang penakluk dari
Prancis, Napoleon
Bonaparte:
"Hancurnya sebuah negara bukan karena banyaknya orang jahat yang ada di dalam negara itu, tetapi karena diamnya orang-orang baik.”
Kamis, 30 Juli 2015
Kebohongan dan Kesesatan Syi'ah
Asal madhab Syiah
Syi'ah berasal dari bahasa Arab yang berarti pembela dan pengikut seseorang (dalam hal ini Ali r.a.). Syiah yang pokok adalah Syiah Itsna Asyariah yang mereka akui berasal dari seorang Yahudi munafik Madinah bernama Abdullah bin Saba'. Ali bin Abi Tholib r.a. sendiri yang mereka agung-agungkan telah membakar mereka dengan api dan berlepas diri darinya. Mereka sangat mengkultuskan Ali hingga tingkat kenabian bahkan ada yang menganggapnya Tuhan! Tidak hanya Ali tetapi juga Fatimah, Hasan, Husein, dan keturunannya (Ahlu-l-Bait).
Syi'ah berasal dari bahasa Arab yang berarti pembela dan pengikut seseorang (dalam hal ini Ali r.a.). Syiah yang pokok adalah Syiah Itsna Asyariah yang mereka akui berasal dari seorang Yahudi munafik Madinah bernama Abdullah bin Saba'. Ali bin Abi Tholib r.a. sendiri yang mereka agung-agungkan telah membakar mereka dengan api dan berlepas diri darinya. Mereka sangat mengkultuskan Ali hingga tingkat kenabian bahkan ada yang menganggapnya Tuhan! Tidak hanya Ali tetapi juga Fatimah, Hasan, Husein, dan keturunannya (Ahlu-l-Bait).
Mereka juga bangga dengan namanya 'Rafidhah' yang berarti menolak, yaitu menolak kepemimpinan Abu Bakar dan Umar dalam keyakinannya. Tidak hanya menolak tapi juga membenci dan mengkafirkannya. Aisyah dan Hafshah istri nabi pun juga dianggap kafir dan murtad dari Islam. Mereka memiliki 12 Imam yang mereka agungkan dengan berlebihan. Imam-imam tersebut dianggap sebagai manusia suci sebagaimana nabi Muhammad bahkan pemilik dunia seisinya. Rukun Iman mereka bukanlah enam tetapi hanya lima dengan isi yang berlainan dengan dasar hadis.
Ciri khas Syi’ah yang mengagung-agungkan Ali dan mengkultuskannya sudah dibantah habis-habisan oleh Ali sendiri. Ini semua merupakan rekayasa dari Abdullah bin Saba’, seorang munafik Madinah. Ia berkata kepada Ali r.a., “Engkau adalah Allah”. Amirul Mukminin menjawab, “Kamu sudah dikuasai setan. Tinggalkan ajaranmu dan bertaubatlah, wahai orang yang celaka.” Abdullah bin Saba’ pun diperintahkan untuk dibakar. Tetapi atas tekanan kaum Rafidhah, ia akhirnya hanyalah diasingkan saja. Sedangkan pengikutnya diusir, dibunuh, dan dibakar hidup-hidup.
Dari sinilah para pengikut Sabaiyah (Abdullah bin Saba’) mulai menyiarkan ajaran Syi’ah secara sembunyi-sembunyi dengan menggunakan doktrin ‘At-Taqiyyah’. Sebuah riwayat mereka mengatakan: “Orang yang tidak bertaqiyyah itu tidak memiliki agama”. Padahal sebenarnya, Taqiyyah dalam Islam hanya untuk melindungi keimanan diri dari ancaman orang kafir. Tetapi, mengapa Syi’ah juga ber-taqiyyah kepada orang Sunni? Tentu ini adalah usaha mereka menjadikannya sebagai teologi baru.
Keyakinan Syiah
Syiah memiliki keyakinan-keyakinan (akidah) yang bertentangan dengan ajaran Islam yang murni. Mereka menganggap al-Quran yang ada sekarang ini masih kurang. Al-Quran yang sebenarnya masih tersembunyi di tangan Imam Mahdi yang keluar menjelang akhir zaman. Mereka juga dengan entengnya menafsirkan dan mengubah ayat al-Quran demi pembenaran kepercayaan mereka tentang kemuliaan Imam mereka, pengkafiran sahabat, pengkudusan Ali, dan seterusnya.
Syiah memiliki keyakinan-keyakinan (akidah) yang bertentangan dengan ajaran Islam yang murni. Mereka menganggap al-Quran yang ada sekarang ini masih kurang. Al-Quran yang sebenarnya masih tersembunyi di tangan Imam Mahdi yang keluar menjelang akhir zaman. Mereka juga dengan entengnya menafsirkan dan mengubah ayat al-Quran demi pembenaran kepercayaan mereka tentang kemuliaan Imam mereka, pengkafiran sahabat, pengkudusan Ali, dan seterusnya.
Dalam masalah hadis mereka juga hanya mempercayai perawi hadis dari Syiah. Mereka menolak perawi lain seperti Abu Hurairah yang banyak kita dengar kesahihannya. Mereka juga dengan mudahnya membuat hadis palsu tentang Ali r.a., nikah mut'ah (kawin kontrak), penghinaan sahabat nabi, dan lain-lain. Mereka juga mengkafirkan setiap muslim yang bukan Syiah Itsna Asyariah. Non-Syiah dianggapnya sebagai makhluk najis, jauh melebihi anjing dan babi.
Kesesatan Syiah dalam Fiqh dan Mu'amalah
Dalam Fiqh, mereka membuat-buat hukum dan amalan yang mereka anggap berpahala besar dan mulia. Diantaranya adalah nikah Mut'ah (kawin kontrak). Mereka berkata bahwa jika seseorang ber-mut'ah empat kali maka ia setara kedudukan dengan Nabi Rasulullah Muhammad SAW. Anak dari mut'ah dianggap lebih mulia dan baik daripada anak dari istri tetap. Bahkan boleh juga mut'ah dengan istri orang lain. Ini mereka bolehkan bahkan sebagian imam mewajibkannya.
Kesesatan Syiah dalam Fiqh dan Mu'amalah
Dalam Fiqh, mereka membuat-buat hukum dan amalan yang mereka anggap berpahala besar dan mulia. Diantaranya adalah nikah Mut'ah (kawin kontrak). Mereka berkata bahwa jika seseorang ber-mut'ah empat kali maka ia setara kedudukan dengan Nabi Rasulullah Muhammad SAW. Anak dari mut'ah dianggap lebih mulia dan baik daripada anak dari istri tetap. Bahkan boleh juga mut'ah dengan istri orang lain. Ini mereka bolehkan bahkan sebagian imam mewajibkannya.
Selain itu mereka juga memiliki wudhu, azan, iqomat, dan shalat yang berbeda dengan Sunni. Syiah memiliki tambahan lafad dalam azan dan iqomat yaitu: Asyhaduanna 'aliyyan waliyyullah, asyhadu anna aliyyan hujjatullah, dan tambahan hayya 'ala khoiril 'amal. Wudlunya pun tidak membasuh rambut dan kaki, tetapi hanya asal mengusapnya.
Dalam shalat pun mereka menggunakan batu yang bernama at-Turbah al-Husainiyah (tanah dari Karbala) sebagai alas untuk sujud. Mereka menutup shalat dengan memukul paha dua kali, tidak menggunakan salam. Mereka mengangkat tangan (takbir) ketika sebelum sujud duduk di antara dua sujud, dan duduk tahiyyat akhir. Untuk lebih jelasnya silahkan melihat di Youtube dengan kata kunci 'wudhu dan shalat Syiah'.
Dalam bermu’amalah Syiah juga menggunakan sikap munafik (lain di perbuatan dan perkataan, lain di hati). Sikap munafik ini mereka sebut dengan taqiyyah. Taqiyyah ini wajib dilakukan untuk menghindari bahaya dan menjaga kehormatan diri dan termasuk dalam sikap beragama orang Syiah. (amr/13)
Langganan:
Postingan (Atom)


