Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Minggu, 16 Oktober 2016
Selasa, 23 Agustus 2016
Kamis, 28 April 2016
Dakwah: Kewajiban Setiap Muslim
Ketika kita mendengar kata dakwah, bayangan kita mungkin menuju kepada Jamaah Tabligh. “Dakwah 'kan hanya tugasnya para da'i!”, tolak sebagian kaum muslim. Benarkah?
Kewajiban Yang Terlupa
Dakwah berasal dari kata da'aa – yad'uu yang artinya ”mengajak”
atau ”menyeru”. Secara terminologis, dakwah adalah mengajak atau
menyeru manusia agar menempuh kehidupan ini di jalan Allah Swt,
berdasarkan ayat Al-Quran:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ“ Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik...” (QS. An-Nahl:125).
Setiap perkataan,
pemikiran, atau perbuatan yang secara eksplisit ataupun implisit
mengajak orang ke arah kebaikan (dalam perspektif Islam), perbuatan
baik, amal saleh, atau menuju kebenaran dalam bingkai ajaran Islam,
dapat disebut dakwah.
Dalam perspektif komunikasi,
dakwah termasuk dalam kategori komunikasi persuasif, yakni komunikasi
yang bersifat membujuk, mengajak, atau merayu, semakna dengan makna
dasar dakwah, yakni mengajak atau menyeru. Dengan kata lain, seperti
iklan komersial yang mengajak orang untuk membeli barang. Bedanya,
dakwah itu bagaikan 'iklan' yang mengajak orang untuk mengikuti jalan
Allah: Al-Qur'an dan Sunnah.
Tugas Setiap Muslim
Dakwah bukan hanya tugas seorang
da'i.
Dakwah
juga tidak harus menunggu seseorang memiliki ilmu agama yang
mendalam. Ilmu sekecil apapun yang kita miliki bisa menjadi materi
dakwah.
Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
بَلِّغُوْا عَنِّيْ وَلَوْ آيَةً (رواه البخاري)Sampaikanlah (apapun) dariku, walaupun hanya sepotong ayat. (HR Bukari)
Rasul
shallallahu 'alaihi wasallam dalam hadis ini menjelaskan pentingnya
perintah menyampaikan Islam sebanyak yang kita tahu, walaupun hanya
satu ayat.
Satu
ayat itu hal yang kecil, sedikit, dan sangat mudah.
Tetapi,
Nabi tetap memandang sesuatu yang kecil itu HARUS disampaikan.
Tepatnya, ilmu apapun yang kita miliki tentang kebenaran, apalagi
masalah agama, sampaikanlah kepada orang lain. Atau dengan kata lain,
'BERDAKWAHLAH'!
Kita
hanya tahu satu hadis, sampaikan!
Kita
hanya tahu cara wudlu yang benar, sampaikan!
Kita
hanya tahu shaf itu harus rapat, sampaikan!
Kita
hanya tahu belajar menuntut ilmu itu wajib, sampaikan!
Kita
hanya tahu laki-laki itu wajib shalat 5 waktu di masjid, sampaikan!
Sekecil
apapun itu, selama itu bernilai kebenaran, sampaikanlah kepada orang
lain. Menyampaikan kepada orang lain itu adalah misi utama dari
DAKWAH.
Lalu,
APA HUKUMNYA?
Hukum
dakwah bagi yang mengetahui kebenaran adalah WAJIB.
Jangan
putus asa dulu, baca terus...
Akibat Dakwah Berhenti
Kalau
kita pikir-pikir kembali, orang Barat mati dalam keadaan kafir itu,
bukan kesalahan mereka sendiri.
Mereka
kafir karena (mungkin) mereka belum mengenal Islam.
Mereka
kafir karena (mungkin juga) mereka tahu Islam, tapi dalam
gambaran yang salah dari media massa.
Mereka
kafir karena (mungkin) tidak ada yang mengenalkan dan
mengajarkan mereka Islam yang sesungguhnya.
Ketahuilah,
kata (mungkin) di atas lebih tepat diganti menjadi SEBENARNYA!
Islam
sekarang ini diuji dengan fitnah yang sangat berat. Barat mendengar
Islam yang identik dengan kata: teroris, kejam terhadap perempuan,
fundamental, radikal, sadis, brutal, dan sentimen negatif lainnya.
Sayangnya,
masyarakat Barat hanya menjadi konsumen berita yang hanya menerima
dan mengiyakan saja informasi di atas. Banyak dari mereka yang
langsung percaya tanpa klarifikasi dan cek ulang terhadap informasi
yang mereka dengar. Akhirnya, mereka pun tidak mengenal Islam, atau,
mengenal Islam tapi dalam gambaran yang salah.
Mereka
salah, dong?
Tidak.
Kita juga salah!
Jika
dakwah kita mampu menyaingi derasnya arus media yang salah dalam
menggambarkan Islam, pasti masyarakat Barat tidak akan salah paham
terhadap Islam. Sekarang pertanyaannya: mana yang lebih deras, dakwah
Islam yang benar ATAU media yang penuh dengan fitnah?
Tentu,
dakwah kalah deras.
Dakwah
sekarang ini kalah karena tidak ada yang mau memperjuangkannya. Umat
Islam merasa bahwa dakwah hanyalah tugas para ulama cendekia.
Sedangkan, umat Islam dengan ilmu pas-pasan tidak berkewajiban untuk
berdakwah. Padahal, itu adalah kewajiban SETIAP muslim.
Jadi,
masih menolak kewajiban dakwah?
Cara Berdakwah
Dakwah
memiliki banyak sekali ragam dan bentuk.
Dakwah
tidak melulu berupa pidato panjang lebar di depan publik. Dakwah
secara garis besar memiliki 3 macam utama:
-
Dakwah bil-qoul دعوة بالقوول
-
Dakwah bil-hal دعوة بالحال
Pertama,
dakwah bil-qoul. Artinya adalah mengajak dengan lisan. Nasihat,
pidato, sindiran, ajakan adalah bentuk dari dakwah yang pertama ini.
Tentunya, pendakwah harus mampu menyampaikannya dengan cara yang
tepat kepada orang yang tepat di saat yang tepat. Kesalahan metode
dalam berdakwah akan berujung pada kegagalan.
Kedua,
dakwah bil-hal. Artinya dakwah dengan perbuatan, aksi, dan tindakan
yang nyata. Hal ini merupakan tindak lanjut dari dakwah yang pertama.
Sangat sia-sia dan mengecewakan, kita menyeru pergi ke masjid,
sementara kita masih shalat jamaah di kamar. Dakwah ini juga memiliki
pengaruh yang sangat besar terhadap penerima dakwah, meskipun tidak
didahului dengan dakwah dengan lisan.
Ringkasnya,
dakwah memiliki banyak cara yang bisa kita tempuh.
Shalat
di masjid berjamaah tepat waktu adalah dakwah bagi teman sekamar.
Berkata
lemah lembut dan berbuat baik adalah dakwah yang efektif terhadap
non-muslim yang lebih tua.
Mengucapkan
salam adalah dakwah yang paling mudah ketika bertemu teman di jalan.
Dakwah
itu mudah, bukan?
Metode Dakwah ala Qur'an
Qur'an
telah mengajarkan dari ayat pertama di atas:
“ Serulah
(manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan
pelajaran yang baik (mau'izoh hasanah) dan
bantahlah (debat) mereka dengan
cara yang baik...” (QS. An-Nahl:125).
Ada
3 cara di atas:
-
Hikmah
-
Mauizoh Hasanah
-
Mujadalah
Metode pertama,
hikmah, adalah menyampaikan 'ucapan yang tepat dan benar'
serta dapat diterima oleh rasio/akal. Cara ini tepat untuk
orang-orang intelektual yang berpikir kritis.
Mauizoh hasanah,
merupakan ajakan dan nasihat yang baik, lemah-lembut, dapat menyentuh
hati dan perasaan, serta mudah dipahami. Metode ini sangat cocok
untuk orang awam, yang belum dapat berpikir kritis dan mendalam. Di
antara bentuknya adalah motivasi, pujian, dan peringatan.
Terakhir, mujadalah,
yang artinya adalah bertukar
pikiran, dialog, diskusi, atau debat guna mendorong supaya berpikir
secara sehat dan menerima kebenaran (Islam) dengan cara menyampaikan
argumentasi yang lebih baik untuk mengatasi argumentasi lawan debat.
Cara demikian cocok buat golongan yang tingkat kecerdasannya di
antara kedua golongan tersebut. Perdebatan disampaikan dengan cara
yang lembut, bukan cara yang keras dan kasar.
Dalam
hadis nabi juga mengajarkan cara berdakwah:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ ، وَذَلكَ أَضْعَفُ الِإيْمَانِ
- رواه مسلم -“Barang siapa di antara kamu yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan tangannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan lisannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah dengan hatinya, dan itulah keimanan yang paling lemah.” (HR. Muslim no. 49)
Tangan artinya
kekuasaan dari seorang pemimpin atau pihak berwenang.
Lisan artinya dengan
ucapan, tulisan, artikel, demonstrasi, spanduk, poster, dan media
lain.
Hati artinya tidak
menyetujui kemungkaran dalam kalbu, tetapi tidak memiliki kekuatan mengubahnya
dengan tangan maupun lisan.
Dakwah Modern
Media
dakwah sekarang tidak hanya terbatas pada lisan dan hubungan langsung
antar manusia. Melalui media modern kita bisa berdakwah dengan mudah,
bahkan dengan jangkauan yang lebih luas.
Jenis
media modern di antaranya:
-
Media AudioRadio, podcast, lagu, nasyid, rekaman ceramah, telefon, interkom, pengeras suara.
-
Media VisualTelevisi, film, iklan, sinetron, short-movie, video.
-
Media CetakKoran, majalah, tabloid, buletin, poster, stiker, banner, baliho, mading, buku.
-
Media OnlineFacebook, Twitter, website, mailing-list, streaming (ceramah/radio/TV), e-mail, blog, chat Skype.
Media
di atas bisa kita manfaatkan sebagai alternatif dari pidato dan
ceramah di masjid, majlis taklim, balai pertemuan, atau tempat publik
lainnya.
Jadi?
Manusia
modern punya banyak cara dalam berdakwah. Tidak ada lagi alasan untuk
menolak untuk berdakwah. Ini adalah kewajiban untuk setiap muslim
yang harus disampaikan, sekecil apapun itu.
Semua
macam dakwah memiliki 2 pesan utama: Amar Ma'ruf dan Nahi Mungkar.
Menyeru
dan menyuruh kepada hal yang ma'ruf (kebaikan), serta melarang
dan mencegah dari hal yang mungkar (keburukan).
Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam menegaskan:
"Barangsiapa yang menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti orang yang mengerjakannya" (H.R. Muslim)"Bahwasanya manusia itu bila mengetahui orang berbuat zalim kemudian mereka tidak mengambil tindakan, maka Allah akan meratakan siksaan kepada mereka semua" (H.R. Abu Daud, Tirmidzi dan Nasa'i)."Demi Tuhan yang jiwaku berada dalam kekuasaan-Nya, kamu harus sungguh-sungguh menyuruh kebaikan dan mencegah kemunkaran, kalau tidak Allah akan menurunkan siksaan kepadamu, kemudian kamu berdoa kepadaNya, maka tidak akan dikabulkan doamu itu" (H.R. Tirmidzi).
Akhir
kata, kita kutip kata dari sang penakluk dari
Prancis, Napoleon
Bonaparte:
"Hancurnya sebuah negara bukan karena banyaknya orang jahat yang ada di dalam negara itu, tetapi karena diamnya orang-orang baik.”
Kamis, 21 April 2016
Minggu, 28 Februari 2016
Belajar Photoshop dari Nol
Pernah gak terpukau dengan desain khas ala Gontor 2? Entah itu banner Harmony, poster, iklan, mading Gorda Pos, Majalah An-Nahdhah, banner ujian, depan kopel, dan lain sebagainya; pasti pernah terpikir, “kapan aku bisa desain seperti itu, ya?”.
Mudah saja. Belajar. Tapi, belajar dimana??
Ya, menangkap kegelisahan itulah akhirnya ada juga orang yang mau berbaik hati berbagi pengetahuan untuk belajar photoshop dari nol sampai tingkat profesional. Hebatnya lagi, semuanya dilengkapi dengan langkah yang jelas dan gambar screenshot (jepretan monitor) yang sangat membantu. Dijamin deh, kalau bisa menyempatkan 1 jam per hari untuk belajar photoshop di DCC dengan situs ini, satu bulan sangat cukup untuk bisa mahir desain.
Di situs ini, tutorial photoshop dibagi beberapa kategori:
1. Tingkat Dasar
2. Tingkat Menengah
3. Tingkat Lanjutan
4. Edit Foto
Cara penyampaiannya pun unik. Kita tidak langsung berkenalan dengan istilah-istilah asing di photoshop, melainkan kita diajak membuat karya unik melalui studi kasus. Dari situlah, kita akan berkenalan dengan selection, Filter Gallery, Hue and Saturation, Levels, Layer Masking, Opacity, Layer Blending Options, dan lain-lain.
Hehehe, bingung ya? Gak usah bingung, langsung saja menuju TKP:
Link>> ilmuphotoshop.net
Berikut beberapa hasil dari belajar di situs ini.
Jumat, 26 Februari 2016
Grand Syaikh Al-Azhar: 50 Beasiswa Penuh per Tahun untuk Santri Gontor
GONTOR - Kedatangan Syaikhu-l-Azhar kali ini sungguh istimewa. Karena bertepatan dengan 90 tahun pondok modern, dimana kedatangannya adalah acara pembuka bagi serentetan acara besar lainnya.
Beliau adalah Dr. Ahmad Muhammad Ahmad At-Tayyib, pemegang amanah sebagai Syaikhu-l-Azhar yang ke-48 menggantikan Muhammad Sayyid Tantawi selepas wafatnya tahun 2010. Doktor bidang akidah dan filsafat Islam ini menguasai 2 bahasa sekaligus, Prancis dan Inggris, dengan sangat baik. Karangan buku beliau sangat luas meliputi fiqh, syari’ah, dan tasawuf Islam.
Sebelum menjabat sebagai Syaikhu-l-Azhar, ulama kelahiran 6 Januari 1946 ini menjabat sebagai rektor universitas Al-Azhar. Dalam pidato sambutannya, beliau mengaku pernah datang ke Gontor bersama Syaikhu-l-Azhar sebelumnya saat masih menjabat rektor.
Berita gembira untuk segenap santri Pondok Modern datang dari beliau sebagai jawaban atas permintaan pimpinan pondok dalam sambutannya.
“Saya putuskan sejak sekarang untuk mengkhususkan kepada santri Pondok Modern Darussalam Gontor 50 beasiswa setiap tahunnya. Saya minta untuk dibagi, setengah untuk calon mahasiswa dan lainnya untuk calon mahasiswi. Itu termasuk kuliah agama dan pengetahuan modern, seperti: arsitektur, apotek farmasi, kedokteran, dan lain-lain”, terang beliau di sela-sela sambutannya.
Spontan, pimpinan pondok bertahmid dan mengucap takbir yang disambut bergema oleh seluruh hadirin. Air mata bahagia mengalir di pelupuk mata bapak pimpinan. Beliau bahkan menambahkan bahwa kuota beasiswa bisa saja dinaikkan menjadi 100 orang per tahun pada masa mendatang, biidznillah.
Topik berlanjut kepada nasehat yang berisikan ajakan untuk berpegang dengan madzhab wasathiyah (moderat) dalam beragama. Karena kita tinggal di dunia dengan pengikut madhab lain, agama lain, bahkan ateis.
Janganlah kita mudah mengkafirkan seorang yang shalat, membaca Al-Qur’an, dan menghadap kiblat yang sama dengan kita. Perbedaan adalah hal yang pasti terjadi. Beliau menegaskan untuk menghindari sifat ta’assub (fanatik) madhab dan berlebih-lebihan dalam beragama.
Beliau adalah Dr. Ahmad Muhammad Ahmad At-Tayyib, pemegang amanah sebagai Syaikhu-l-Azhar yang ke-48 menggantikan Muhammad Sayyid Tantawi selepas wafatnya tahun 2010. Doktor bidang akidah dan filsafat Islam ini menguasai 2 bahasa sekaligus, Prancis dan Inggris, dengan sangat baik. Karangan buku beliau sangat luas meliputi fiqh, syari’ah, dan tasawuf Islam.
Sebelum menjabat sebagai Syaikhu-l-Azhar, ulama kelahiran 6 Januari 1946 ini menjabat sebagai rektor universitas Al-Azhar. Dalam pidato sambutannya, beliau mengaku pernah datang ke Gontor bersama Syaikhu-l-Azhar sebelumnya saat masih menjabat rektor.
Berita gembira untuk segenap santri Pondok Modern datang dari beliau sebagai jawaban atas permintaan pimpinan pondok dalam sambutannya.
“Saya putuskan sejak sekarang untuk mengkhususkan kepada santri Pondok Modern Darussalam Gontor 50 beasiswa setiap tahunnya. Saya minta untuk dibagi, setengah untuk calon mahasiswa dan lainnya untuk calon mahasiswi. Itu termasuk kuliah agama dan pengetahuan modern, seperti: arsitektur, apotek farmasi, kedokteran, dan lain-lain”, terang beliau di sela-sela sambutannya.
Spontan, pimpinan pondok bertahmid dan mengucap takbir yang disambut bergema oleh seluruh hadirin. Air mata bahagia mengalir di pelupuk mata bapak pimpinan. Beliau bahkan menambahkan bahwa kuota beasiswa bisa saja dinaikkan menjadi 100 orang per tahun pada masa mendatang, biidznillah.
Topik berlanjut kepada nasehat yang berisikan ajakan untuk berpegang dengan madzhab wasathiyah (moderat) dalam beragama. Karena kita tinggal di dunia dengan pengikut madhab lain, agama lain, bahkan ateis.
Janganlah kita mudah mengkafirkan seorang yang shalat, membaca Al-Qur’an, dan menghadap kiblat yang sama dengan kita. Perbedaan adalah hal yang pasti terjadi. Beliau menegaskan untuk menghindari sifat ta’assub (fanatik) madhab dan berlebih-lebihan dalam beragama.
Minggu, 16 Agustus 2015
Perang Sistem Pendidikan
Kemajuan suatu bangsa terletak pada tsaqofah dan madaniyah. Tsaqofah adalah gerakan yang tidak tampak tapi memiliki pengaruh yang sangat dahsyat, contohnya membina, mendidik, menegakkan disiplin, memotivasi dan sebagainya.
Madaniyah adalah gerakan yang tampak juga mempunyai pengaruh yang tidak sedikit bagi kehidupan, contohnya adalah pembangunan jalan, masjid, balai pertemuan, alat transportasi dan sebagainya. Dua gerakan tersebut, jika integrit akan menjadi kekuatan yang hebat, yang dinamakan dengan hadhoroh.
Mengingat pentingnya gerakan tersebut, maka segala potensi dan upaya untuk meningkatkan kualitas diperlukan. Wadah yang tepat untuk itu adalah institusi pendidikan.
Institusi manapun dan apapun baik formal, informal dan non formal, tradisional dan modern, pasti memiliki standar operasional dan sistem dalam melaksanakan gerakan-gerakan tsaqofah. Pendidikan nasional memiliki sistem pendidikan sendiri, baik manajemen, pembinaan bahkan sistem ukur hasil proses belajar akhir melalui UAN. Lembaga pendidikan tradisional, seperti pondok salafiyah juga memiliki sistem, manajemen, pembinaan dan pengajaran sendiri.
Lembaga pendidikan pesantren salafiyah secara manajemen dikelola oleh kyainya. Sementara pembinaan terhadap santri hanya difokuskan pada pembinaan aqidah tauhid. Tidak tampak banyak pembangunan karakter (character building). Adapun pengajarannya, hanya difokuskan pada penguasan terhadap buku turost atau kitab kuning yang mengunakan sistem sorogan sebagai sistem tranformasinya.
Adapun lembaga pendidikan pesantren modern seperti Gontor juga memiliki sistem yang spesifik dalam melaksanakan gerakan-gerakan tsaqofah tarbawiyah. Sistem pendidikan Gontor diciptakan untuk kehidupan maka sistem pendidikan Gontor itu sifatnya holistis dan komprehensif (jaami' syamil). Bukan hanya untuk kepentingan akademis saja, tetapi juga untuk pembentukan karakter, bahkan sampai menyentuh kepentingan kelangsungan hidup santri di pondok dan di masyarakat kelak.
Ada beberapa sistem kunci yang diterapkan Gontor dalam menggerakkan dan menata totalitas kehidupan. Sistem-sistem tersebut adalah:
1. Sistem pengajaran
2. Sistem kepemimpinan
3. Sistem pendanaan
4. Sistem kaderisasi
5. Sistem kesejahteraan
6. Sistem kepengasuhan
Sistem-sistem tersebut di atas senantiasa dipertahankan oleh Gontor secara konsisten dan tidak berubah-ubah meskipun mengalami perubahan pelaksananya dari generasi ke generasi. Dalam hal ini, Gontor menganut teguh prinsip “al-muhafadzoh 'alal qodimis sholih wal ahdzu bil jadiidil aslah”.
Berbeda dengan Gontor, sistem pendidikan dan pengajaran di luar Gontor selalu mengalami perubahan-perubahan sesuai dengan selera decision maker atau pemimpinnya. Sebagai contohnya, ketika menteri pendidikan atau dirjen pendidikan berganti baru, maka sistem pendidikannya ikut berubah pula. Padahal sistem lama belum sempurna penerapannya dan aplikasinya bahkan hasilnya pun belum ada.
Di pesantren selain Gontor perubahan-perubahan sistem diatas juga kerap terjadi ketika kyai atau pimpinannya meninggal dunia dan digantikan orang lain.
Selain itu, ada lagi perbedaan lain yang signifikan. Sistem-sistem Gontor tersebut lahir dari pengalaman dan penciptaan dinamika kehidupan secara totalitas; bukan dari teori ahli pendidikan. Sebaliknya, sistem-sistem di luar Gontor bersumber (referensinya) dari teori-teori yang diciptakan ahli-ahli pendidikan yang belum tentu sesuai dengan kemampuan dan kondisi lembaga pendidikan tersebut.
Kalau diamati dan dianalisa secara mendalam, dengan adanya sistem-sistem pendidikan yang variatif dan berbeda dalam institusi-institusi pendidikan dapat disimpulkan bahwa sebenarnya telah terjadi perang sistem pendidikan “antara pendidikan umum atau nasional dengan pendidikan pesantren”. Hanya peperangan tersebut tidak terlihat secara fisik.
Pemenang “perang sistem pendidikan” tersebut dapat diklaim oleh Gontor, karena konsistensinya, pendidikan Gontor dari waktu ke waktu dianggap baik serta diterima oleh masyarakat. Buktinya kepercayaan masyarakat terhadap Gontor semakin besar dengan indikasi santrinya bertambah terus, sehingga Gontor mengembangkan kemampuannya sampai 20 cabang.
Sistem-sistem itu dapat dikatakan baik atau buruk, kuat atau lemah, apabila melalui proses-proses berikut ini:
1. Sistem diuji kelayakannya dengan cara dibandingkan dengan sistem lain
2. Memiliki ketahanan atau tidak
3. Memiliki hasil
4. Alumninya mampu bersaing di masyarakat
Madaniyah adalah gerakan yang tampak juga mempunyai pengaruh yang tidak sedikit bagi kehidupan, contohnya adalah pembangunan jalan, masjid, balai pertemuan, alat transportasi dan sebagainya. Dua gerakan tersebut, jika integrit akan menjadi kekuatan yang hebat, yang dinamakan dengan hadhoroh.
Mengingat pentingnya gerakan tersebut, maka segala potensi dan upaya untuk meningkatkan kualitas diperlukan. Wadah yang tepat untuk itu adalah institusi pendidikan.
Institusi manapun dan apapun baik formal, informal dan non formal, tradisional dan modern, pasti memiliki standar operasional dan sistem dalam melaksanakan gerakan-gerakan tsaqofah. Pendidikan nasional memiliki sistem pendidikan sendiri, baik manajemen, pembinaan bahkan sistem ukur hasil proses belajar akhir melalui UAN. Lembaga pendidikan tradisional, seperti pondok salafiyah juga memiliki sistem, manajemen, pembinaan dan pengajaran sendiri.
Lembaga pendidikan pesantren salafiyah secara manajemen dikelola oleh kyainya. Sementara pembinaan terhadap santri hanya difokuskan pada pembinaan aqidah tauhid. Tidak tampak banyak pembangunan karakter (character building). Adapun pengajarannya, hanya difokuskan pada penguasan terhadap buku turost atau kitab kuning yang mengunakan sistem sorogan sebagai sistem tranformasinya.
Adapun lembaga pendidikan pesantren modern seperti Gontor juga memiliki sistem yang spesifik dalam melaksanakan gerakan-gerakan tsaqofah tarbawiyah. Sistem pendidikan Gontor diciptakan untuk kehidupan maka sistem pendidikan Gontor itu sifatnya holistis dan komprehensif (jaami' syamil). Bukan hanya untuk kepentingan akademis saja, tetapi juga untuk pembentukan karakter, bahkan sampai menyentuh kepentingan kelangsungan hidup santri di pondok dan di masyarakat kelak.
Ada beberapa sistem kunci yang diterapkan Gontor dalam menggerakkan dan menata totalitas kehidupan. Sistem-sistem tersebut adalah:
1. Sistem pengajaran
2. Sistem kepemimpinan
3. Sistem pendanaan
4. Sistem kaderisasi
5. Sistem kesejahteraan
6. Sistem kepengasuhan
Sistem-sistem tersebut di atas senantiasa dipertahankan oleh Gontor secara konsisten dan tidak berubah-ubah meskipun mengalami perubahan pelaksananya dari generasi ke generasi. Dalam hal ini, Gontor menganut teguh prinsip “al-muhafadzoh 'alal qodimis sholih wal ahdzu bil jadiidil aslah”.
Berbeda dengan Gontor, sistem pendidikan dan pengajaran di luar Gontor selalu mengalami perubahan-perubahan sesuai dengan selera decision maker atau pemimpinnya. Sebagai contohnya, ketika menteri pendidikan atau dirjen pendidikan berganti baru, maka sistem pendidikannya ikut berubah pula. Padahal sistem lama belum sempurna penerapannya dan aplikasinya bahkan hasilnya pun belum ada.
Di pesantren selain Gontor perubahan-perubahan sistem diatas juga kerap terjadi ketika kyai atau pimpinannya meninggal dunia dan digantikan orang lain.
Selain itu, ada lagi perbedaan lain yang signifikan. Sistem-sistem Gontor tersebut lahir dari pengalaman dan penciptaan dinamika kehidupan secara totalitas; bukan dari teori ahli pendidikan. Sebaliknya, sistem-sistem di luar Gontor bersumber (referensinya) dari teori-teori yang diciptakan ahli-ahli pendidikan yang belum tentu sesuai dengan kemampuan dan kondisi lembaga pendidikan tersebut.
Kalau diamati dan dianalisa secara mendalam, dengan adanya sistem-sistem pendidikan yang variatif dan berbeda dalam institusi-institusi pendidikan dapat disimpulkan bahwa sebenarnya telah terjadi perang sistem pendidikan “antara pendidikan umum atau nasional dengan pendidikan pesantren”. Hanya peperangan tersebut tidak terlihat secara fisik.
Pemenang “perang sistem pendidikan” tersebut dapat diklaim oleh Gontor, karena konsistensinya, pendidikan Gontor dari waktu ke waktu dianggap baik serta diterima oleh masyarakat. Buktinya kepercayaan masyarakat terhadap Gontor semakin besar dengan indikasi santrinya bertambah terus, sehingga Gontor mengembangkan kemampuannya sampai 20 cabang.
Sistem-sistem itu dapat dikatakan baik atau buruk, kuat atau lemah, apabila melalui proses-proses berikut ini:
1. Sistem diuji kelayakannya dengan cara dibandingkan dengan sistem lain
2. Memiliki ketahanan atau tidak
3. Memiliki hasil
4. Alumninya mampu bersaing di masyarakat
Sistem pendidikan Gontor telah teruji selama kurang lebih 89 tahun dan tetap konsisten tanpa ada intervensi pihak lain dan tanpa berkiblat kepada sistem pendidikan nasional atau luar negeri. Bahkan Departemen Pendidikan Nasional dan Agama telah memberi persamaan setingkat menengah dan aliyah tanpa mengikuti UAN dan kurikulum mereka.
Selain bertahan, sistem pendidikan di Gontor yang dibangun di atas jiwa dan filsafat, mampu menghasilkan SDM yang idealis, bahkan alumninya mampu bersaing di masyarakat. Seperti menduduki jabatan, ketua organisasi besar Indonesia (NU dan Muhammadiyah), ada pula yang menjabat sebagai menteri agama, ketua MPR, rektor dan sebagainya.
Selain bertahan, sistem pendidikan di Gontor yang dibangun di atas jiwa dan filsafat, mampu menghasilkan SDM yang idealis, bahkan alumninya mampu bersaing di masyarakat. Seperti menduduki jabatan, ketua organisasi besar Indonesia (NU dan Muhammadiyah), ada pula yang menjabat sebagai menteri agama, ketua MPR, rektor dan sebagainya.
Kamis, 13 Agustus 2015
Hidup Berlandaskan 5 Pilar Pondok Modern
Dinamika kehidupan gontor yang dinamis menjadikan santrinya untuk tampil militan dimasyarakat. Telah banyak alumni Gontor yang menjadikan kehidupan Gontor sebagai acuan dalam kehidupan dimasyarakat. Maka tak heran apabila banyak di antara alumni Gontor yang berkiprah dan terlihat lebih menonjol diantara lainnya.
Kepribadian militan terlahir dari semua kegiatan yang berjalan berdasarkan nilai - nilai yang terdapat dalam jiwa dan filsafat hidup Pondok Modern Darussalam Gontor.
Saat seminar pondok pesantren se-Indonesia tahun 1965 di Yogyakarta KH Imam Zarkasyi, salah satu Trimurti pendiri Gontor, mengatakan bahwa hal yang paling penting dalam pesantren bukanlah pelajarannya semata-mata, melainkan juga jiwanya. Jiwa itulah yang akan memelihara kelangsungan hidup pesantren dan menentukan filsafat hidupnya. KH Imam Zarkasyi menuangkan perkataanya tersebut dalam panca jiwa pondok modern. Kelima jiwa tersebut adalah: keikhlasan, kesederhanaan, kesanggupan menolong diri sendiri (zelp help) atau berdikari (berdiri diatas khaki sendiri), ukhuwah islamiyah, dan kebebasan. Panca jiwa inilah yang menjadi filsafat hidup Pondok Modern Darussalam Gontor. Hal inilah yang menarik seorang Menteri Wakaf Mesir Syeikh Hasan Baquri untuk berkunjung ke Pondok Modern Gontor tahun 1956, beliau mengatakan: “Saya tidak tertarik melihat banyaknya santri di Pondok ini, tetapi yang membuat saya tertarik adalah Pondok Modern Gontor mempunyai jiwa dan filsafat hidup yang akan menjamin kelangsungan hidupnya.”
Jiwa dan filsafat yang telah menjadi satu menjadikanya salah satu kekuatan Gontor sehingga bisa tumbuh dan berkembang hingga saat ini.
1. Jiwa Keikhlasan
Jiwa ini berarti sepi ing pamrih, yakni berbuat sesuatu bukan karena didorong oleh keinginan untuk mendapatkan keuntungan tertentu. Segala perbuatan dilakukan dengan niat semata-mata untuk ibadah, lillah. Seorang Kyai ikhlas medidik dan para pembantu kyai ikhlas dalam membantu menjalankan proses pendidikan serta para santri yang ikhlas dididik. Jiwa ini menciptakan suasana kehidupan pondok yang harmonis antara kyai yang disegani dan santri yang ikhlas dididik. Jiwa ini menciptakan suasana kehidupan pondok yang harmonis antara kyai yang disegani dan santri yang taat, cinta dan penuh hormat. Jiwa ini menjadikan santri senantiasa siap berjuang di jalan Allah, di manapun dan kapanpun.
2. Jiwa Kesederhanaan
Jiwa kesederhanaan ini mengandung arti agung, dan bukan berarti pasif (bahasa jawa=narimo). Bukan juga berati suatu kemiskinan ataupun kemelaratan. Akan tetapi sederhana dalam konteks ini adalah sesuai kebutuhan dan mengandung unsur kekuatan atau ketabahan hati serta penguasaan diri dalam menghadapi perjuangan hidup dengan segala kesulitan. Hasil di balik jiwa kesederhanaan ini adalah akan terpancarnya jiwa besar, berani maju terus dalam menghadapi perjuangan hidup, dan pantang mundur dalam segala keadaan. Selain itu juga akan tumbuh dari jiwa keikhlasan ini mental/karakter yang kuat yang menjadi syarat bagi suksesnya perjuangan dalam segala kehidupan.
3. Jiwa Berdikari (berdiri diatas kaki sendiri)
Jiwa ini merupakan senjata ampuh dalam pendidikan di dalam pondok modern. Jiwa Berdikari bukan saja berarti dalam arti bahwa santri selalu belajar dan berlatih mengurus segala kepentingannya sendiri tetapi juga pondok pesantren itu sendiri tidak pernah menyandarkan kehidupannya kepada bantuan atau belas kasihan orang lain. Hal inilah yang dinamakan sama-sama memberikan iuran dan sama-sama memakai (zelp berdruifing systeem). Tetapi tidak berarti bersikap kaku dengan tidak menerima bantuan dari orang yang hendak membantu.
4. Jiwa Ukhuwwah Islamiah
Kehidupan di pondok pesantren diliputi suasana persaudaraan yang akrab, sehingga segala suka dan duka dirasakan bersama dalam jalinan ukhuwwah Islamiah. Tidak ada dinding yang dapat memisahkan antara mereka. Ukhuwah ini bukan saja selama mereka di pondok, tetapi juga mempengaruhi ke arah persatuan ummat dalam masyarakat setelah mereka terjun di lapangan kehidupan yang sesungguhnya.
5. Jiwa Bebas
Arti bebas disini dititikberatkan pada berpikir, berbuat, dan menentukan masa depannya; bebas dalam artian tetap terjaga dalam lingkaran kebaikan. Sebagaimana bapak kyai selalu berpesan “kebebasan seseorang selalu terbatasi dengan kebebebasan orang lain”. Dengan prinsip jiwa bebas ini para santri bebas dalam memilih dan menentukan jalan hidupnya di masyarakat kelak, dengan jiwa besar dan optimis dalam menghadapi kesulitan.
Lima panca jiwa ini yang selalu dijadikan para penghuni Gontor sebagai landasan utama dalam menjalankan kegiatan sehingga membuat gontor selalu dinamis dan dapat memunculkan slogan “al-ma'hadu laa yanaamu abadan” dan diharapkan bagi para santri menjadi seorang yang militan dan dapat menjadi pemimpin umat yang baik untuk masyarakat.
Jumat, 07 Agustus 2015
Waspadai Kebangkitan Komunis Gaya Baru
Jum'at (06/02) malam,para santri dan guru Gontor 2 berkumpul di masjid Jami' Gontor 2 guna mengikuti acara Talk Show “Mewaspadai Kebangkitan Komunis Gaya Baru” bersama Drs. Alfian Tanjung, M.Pd.I. Sejumlah kurang lebih 250 orang dari masyarakat sekitar juga ikut hadir dalam acara tersebut.
Diawali dengan sambutan dari wakil pengasuh Gontor 2, Ust. H. Muhammad Hudaya, Lc. M.Ag. “Pesantren memiliki andil yang sangat besar dalam memerdekan Indonesia”, tutur wakil pengasuh Gontor 2 mengawali sambutan. Beliau juga memaparkan sedikit cerita bagaimana Ust. Imam Zarkasyi dan Ust. Ahmad Sahal dulu juga menjadi incaran anggota PKI.
Di mana saat dikumpulkan bersama para santri, PKI bertanya “siapa diantara kalian yang bernama Imam Zarkasyi dan Ahmad Sahal?”, dan ternyata seluruh santrinya mengangkat tangan guna melindungi kyainya. Padahal saat itu resikonya adalah dibunuh. Dari situlah muncul filsafat hidup Gontor yang ditanamkan pada para santrinya, Bondho Bahu Pikir Lek Perlu Sak Nyawane Pisan.
Membuka pemaparan tentang PKI, Drs. Alfian Tanjung, M.Pd.I mengajak para hadirin menyaksikan beberapa video yang menunjukkan kebangkitan PKI. Beliau memaparkan 5 langkah untuk menghadapi PKI:
1. Penyadaran sejarah, situasi, dan implikasi. Di mana kita harus mulai sadar bagaimana sejarah PKI dan seluk beluknya, sadar akan situasi dan kondisi atas keberadaan mereka.
2. Pengkaderan. Yaitu mengkaderkan terhadap para pelajar ataupun tenaga khusus lain dalam melawan pergerakan PKI.
3. Pembasisan. Yaitu dengan membasiskan pemikiran & ideologi kita, pembasisan informasi, serta penguatan jejaring (network).
4. Pengondisian. Berupa organisasi yang kuat, mendirikan pusat kegiatan, serta media publikasi.
5. Perlawanan. Baik secara konstitusional, intelejen, dan lainnya.
Suasana Talk Show semakin seru ketika beliau memberi kesempatan kepada para hadirin untuk mengajukan pertanyaan seputar partai komunis tersebut. Beliaupun menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan gamblang.
Selama 2 jam acara berlangsung, tidak ada yang beranjak dari majlis tersebut, hal tersebut menunjukkan antusias yang sangat tinggi dari para hadirin. Acara tersebut kemudian ditutup dengan doa oleh Drs. Alfian Tanjung, M.Pd.I. Beliau juga berharap semoga Gontor mampu menjadi benteng bagi umat Islam.
Selasa, 04 Agustus 2015
Sebuah Poros Bernama Komitmen
Hidup tak selamanya diam, seperti air yang tak selamanya tergenang tanpa riak, selalu ada hal yang menjadikan anugerah Allah yang satu ini bergelombang. Keras atau lembut, kasar ataupun halus, gelombang ini akan setia menjadi bukti dinamika, dinamika kehidupan yang menghasilkan satu di antara dua output: maju atau menyerah, untuk kemudian menang atau kalah.
Kita memerlukan banyak sekali petunjuk jalan sepanjang lajur hidup kita, juga map dan peta super lengkap demi menuntun kita pada tujuan hidup yang sebenarnya. Akan banyak sekali kerikil maupun batu besar sekalipun yang siap menghadang, tak terkecuali di pondok ini. Kadang kita merasa lelah, kemudian berhenti. Atau malas kemudian mundur, padahal di depan masih banyak yang harus kita hadapi, masih ada badai yang mesti kita tembus.
Dalam perjalanan seperti ini, kita tentu membutuhkan api bisa terus benderang meski dalam badai, tetap terang meski tenggelam dalam air, api yang yang senantiasa menyulut semangat kita agar tetap menjadi 'dreamer' yang konsisten. Kita membutuhkan api yang bernama komitmen.
Jill Koenig, salah satu ahli strategi asal Amerika pernah membuat kutipan: “Commitment is the glue that bonds you to your goal.” Artinya, komitmen adalah 'lem' yang mengikat anda pada tujuan anda.
Komitmen secara tak sadar bisa menjadi elemen penting dalam kelangsungan perjalanan hidup kita. Secara nalar, memang hidup ini tak selalu diiringi oleh komitmen, namun dalam sadar, kita mampu melihat bahwa setiap keinginan yang kita tuliskan, tekad yang ingin kita tuju telah menancapkan paku-paku komitmen dalam diri kita untuk meraih hal tersebut.
Islam tak lupa juga dalam menekankan hal ini. Islam menganjurkan umatnya agar selalu istiqomah dalam kebaikan, seperti yang disebutkan dalam permulaan surat Hud ayat 112:
فَٱستَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ
“Maka tetaplah (Beristiqomahlah) kamu pada jalan yang benar”
Menjadi hamba yang istiqomah tak akan terwujud kecuali kita menanamkan komitmen dalam diri kita, komitmen untuk selalu berbuat baik, komitmen untuk selalu membahagiakan orang di sekeliling kita, dan banyak komitmen lainnya.
Contoh, jika kita merasa banyak waktu kita yang terbuang sia-sia, merasa nyaman dengan kekosongan kita, atau mungkin terdetik bahwa yang kita lakukan selama ini tak ada gunanya, maka mari kita membuat komitmen yang berkaitan dengan hal itu.
Katakan pada diri sendiri atau tuliskan pada secarik kertas : “To Make All Seconds Precious, And Nothing Waste At Any”. Menjadikan setiap detik berharga, dan tidak satupun terlalui sia-sia. Tataplah lamat-lamat tulisan itu dan tanam dalam benak kita, kemudian siramilah dengan terus mengatakannya pada diri sendiri, niscaya komitmen itu akan menjadi tumbuhan yang menjulang dalam taman hidup kita.
Apakah sulit untuk merubah kebiasaan lama yang cenderung statis? Memang. Tapi perhatikanlah kata-kata dari Dr. Rob Gilbert berikut:
Maksud di sini adalah, kita sendiri yang harus memaksakan diri kita untuk membuat suatu kebiasaan. Kebiasaan tidur di pagi hari mungkin karena kita pada awalnya mencoba untuk melakukannya satu atau dua kali. Karena terlalu menikmatinya, akhirnya secara tidak sadar kita telah menjadikannya sebagai kebiasaan buruk kita.
Rob menambahkan di kalimat keduanya untuk mengalahkan kebiasaan buruk kita, karena apabila kita membiarkannya maka pada akhirnya keburukan itulah yang akan menguasai kita.
Jadi, marilah kita mulai berkomitmen untuk merubah kebiasaan buruk kita, serta memulai untuk membuat komitmen-komitmen untuk berbuat kebaikan. Karena sesungguhnya komitmen adalah sebuah titik yang akan menjadi poros dari bagaimana kehidupan kita akan berlangsung, juga pegangan yang akan kita genggam untuk mencapai impian masing-masing.
Karya apa pun tidak akan pernah jadi tanpa adanya tulisan yang disusun dengan komitmen yang tinggi. Sebagaimana kita ingat pepatah lama: Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit.
Masih ragu untuk berkomitmen dan memelihara kebiasaan buruk? Lihat saja hasilnya di masa yang akan datang!
Kita memerlukan banyak sekali petunjuk jalan sepanjang lajur hidup kita, juga map dan peta super lengkap demi menuntun kita pada tujuan hidup yang sebenarnya. Akan banyak sekali kerikil maupun batu besar sekalipun yang siap menghadang, tak terkecuali di pondok ini. Kadang kita merasa lelah, kemudian berhenti. Atau malas kemudian mundur, padahal di depan masih banyak yang harus kita hadapi, masih ada badai yang mesti kita tembus.
Dalam perjalanan seperti ini, kita tentu membutuhkan api bisa terus benderang meski dalam badai, tetap terang meski tenggelam dalam air, api yang yang senantiasa menyulut semangat kita agar tetap menjadi 'dreamer' yang konsisten. Kita membutuhkan api yang bernama komitmen.
Jill Koenig, salah satu ahli strategi asal Amerika pernah membuat kutipan: “Commitment is the glue that bonds you to your goal.” Artinya, komitmen adalah 'lem' yang mengikat anda pada tujuan anda.
Komitmen secara tak sadar bisa menjadi elemen penting dalam kelangsungan perjalanan hidup kita. Secara nalar, memang hidup ini tak selalu diiringi oleh komitmen, namun dalam sadar, kita mampu melihat bahwa setiap keinginan yang kita tuliskan, tekad yang ingin kita tuju telah menancapkan paku-paku komitmen dalam diri kita untuk meraih hal tersebut.
Islam tak lupa juga dalam menekankan hal ini. Islam menganjurkan umatnya agar selalu istiqomah dalam kebaikan, seperti yang disebutkan dalam permulaan surat Hud ayat 112:
فَٱستَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ
“Maka tetaplah (Beristiqomahlah) kamu pada jalan yang benar”
Menjadi hamba yang istiqomah tak akan terwujud kecuali kita menanamkan komitmen dalam diri kita, komitmen untuk selalu berbuat baik, komitmen untuk selalu membahagiakan orang di sekeliling kita, dan banyak komitmen lainnya.
Contoh, jika kita merasa banyak waktu kita yang terbuang sia-sia, merasa nyaman dengan kekosongan kita, atau mungkin terdetik bahwa yang kita lakukan selama ini tak ada gunanya, maka mari kita membuat komitmen yang berkaitan dengan hal itu.
Katakan pada diri sendiri atau tuliskan pada secarik kertas : “To Make All Seconds Precious, And Nothing Waste At Any”. Menjadikan setiap detik berharga, dan tidak satupun terlalui sia-sia. Tataplah lamat-lamat tulisan itu dan tanam dalam benak kita, kemudian siramilah dengan terus mengatakannya pada diri sendiri, niscaya komitmen itu akan menjadi tumbuhan yang menjulang dalam taman hidup kita.
Apakah sulit untuk merubah kebiasaan lama yang cenderung statis? Memang. Tapi perhatikanlah kata-kata dari Dr. Rob Gilbert berikut:
“First we form habits then they form us. Conquer your bad habits, or they will eventually conquer you.”
Maksud di sini adalah, kita sendiri yang harus memaksakan diri kita untuk membuat suatu kebiasaan. Kebiasaan tidur di pagi hari mungkin karena kita pada awalnya mencoba untuk melakukannya satu atau dua kali. Karena terlalu menikmatinya, akhirnya secara tidak sadar kita telah menjadikannya sebagai kebiasaan buruk kita.
Rob menambahkan di kalimat keduanya untuk mengalahkan kebiasaan buruk kita, karena apabila kita membiarkannya maka pada akhirnya keburukan itulah yang akan menguasai kita.
Jadi, marilah kita mulai berkomitmen untuk merubah kebiasaan buruk kita, serta memulai untuk membuat komitmen-komitmen untuk berbuat kebaikan. Karena sesungguhnya komitmen adalah sebuah titik yang akan menjadi poros dari bagaimana kehidupan kita akan berlangsung, juga pegangan yang akan kita genggam untuk mencapai impian masing-masing.
Karya apa pun tidak akan pernah jadi tanpa adanya tulisan yang disusun dengan komitmen yang tinggi. Sebagaimana kita ingat pepatah lama: Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit.
Masih ragu untuk berkomitmen dan memelihara kebiasaan buruk? Lihat saja hasilnya di masa yang akan datang!
Langganan:
Postingan (Atom)










