Selasa, 23 Agustus 2016
Wakil Presiden Jusuf Kalla Menghadiri Acara Sujud Syukur 90 Tahun Gontor
PONOROGO-Wakil presiden Republik Indonesia Bapak Jusuf Kalla menghadiri sujud syukur menyambut 90 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor. Beliau berkata, "Gontor adalah pesantren bersifat nasional bahkan internasional". “Pesantren Gontor ini memegang predikat modern. Modern itu berarti visioner, berpikiran kekinian dan yang akan datang. Itulah bedanya pendidikan dengan museum. Museum itu melihat ke belakang, sedangkan pendidikan itu melihat ke depan. Jadi, anak-anak di sini telah diajarkan ilmu-ilmu yang bisa mereka gunakan di masa depan. Kita patut bersyukur Gontor bisa menjaga kemodernannya sampai sekarang,” .
“Pendidikan itu hampir sama dengan restauran, bukan tempatnya yang dicari tapi makanannya yang dicari. Begitu juga dengan Gontor ini. Walaupun tempatnya jauh, hingga harus naik dokar sampai di sini, namun karena lembaga pendidikan ini dikelola dengan sebaik-baiknya, maka banyak yang datang mencari.”
Setelah selesai melaksanakan sujud syukur, beliau beranjak menuju Universitas Darussalam Gontor untuk menghadiri acara peletakan batu pertama gedung perpustakaan.
Kamis, 28 April 2016
Dakwah: Kewajiban Setiap Muslim
Ketika kita mendengar kata dakwah, bayangan kita mungkin menuju kepada Jamaah Tabligh. “Dakwah 'kan hanya tugasnya para da'i!”, tolak sebagian kaum muslim. Benarkah?
Kewajiban Yang Terlupa
Dakwah berasal dari kata da'aa – yad'uu yang artinya ”mengajak”
atau ”menyeru”. Secara terminologis, dakwah adalah mengajak atau
menyeru manusia agar menempuh kehidupan ini di jalan Allah Swt,
berdasarkan ayat Al-Quran:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ“ Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik...” (QS. An-Nahl:125).
Setiap perkataan,
pemikiran, atau perbuatan yang secara eksplisit ataupun implisit
mengajak orang ke arah kebaikan (dalam perspektif Islam), perbuatan
baik, amal saleh, atau menuju kebenaran dalam bingkai ajaran Islam,
dapat disebut dakwah.
Dalam perspektif komunikasi,
dakwah termasuk dalam kategori komunikasi persuasif, yakni komunikasi
yang bersifat membujuk, mengajak, atau merayu, semakna dengan makna
dasar dakwah, yakni mengajak atau menyeru. Dengan kata lain, seperti
iklan komersial yang mengajak orang untuk membeli barang. Bedanya,
dakwah itu bagaikan 'iklan' yang mengajak orang untuk mengikuti jalan
Allah: Al-Qur'an dan Sunnah.
Tugas Setiap Muslim
Dakwah bukan hanya tugas seorang
da'i.
Dakwah
juga tidak harus menunggu seseorang memiliki ilmu agama yang
mendalam. Ilmu sekecil apapun yang kita miliki bisa menjadi materi
dakwah.
Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
بَلِّغُوْا عَنِّيْ وَلَوْ آيَةً (رواه البخاري)Sampaikanlah (apapun) dariku, walaupun hanya sepotong ayat. (HR Bukari)
Rasul
shallallahu 'alaihi wasallam dalam hadis ini menjelaskan pentingnya
perintah menyampaikan Islam sebanyak yang kita tahu, walaupun hanya
satu ayat.
Satu
ayat itu hal yang kecil, sedikit, dan sangat mudah.
Tetapi,
Nabi tetap memandang sesuatu yang kecil itu HARUS disampaikan.
Tepatnya, ilmu apapun yang kita miliki tentang kebenaran, apalagi
masalah agama, sampaikanlah kepada orang lain. Atau dengan kata lain,
'BERDAKWAHLAH'!
Kita
hanya tahu satu hadis, sampaikan!
Kita
hanya tahu cara wudlu yang benar, sampaikan!
Kita
hanya tahu shaf itu harus rapat, sampaikan!
Kita
hanya tahu belajar menuntut ilmu itu wajib, sampaikan!
Kita
hanya tahu laki-laki itu wajib shalat 5 waktu di masjid, sampaikan!
Sekecil
apapun itu, selama itu bernilai kebenaran, sampaikanlah kepada orang
lain. Menyampaikan kepada orang lain itu adalah misi utama dari
DAKWAH.
Lalu,
APA HUKUMNYA?
Hukum
dakwah bagi yang mengetahui kebenaran adalah WAJIB.
Jangan
putus asa dulu, baca terus...
Akibat Dakwah Berhenti
Kalau
kita pikir-pikir kembali, orang Barat mati dalam keadaan kafir itu,
bukan kesalahan mereka sendiri.
Mereka
kafir karena (mungkin) mereka belum mengenal Islam.
Mereka
kafir karena (mungkin juga) mereka tahu Islam, tapi dalam
gambaran yang salah dari media massa.
Mereka
kafir karena (mungkin) tidak ada yang mengenalkan dan
mengajarkan mereka Islam yang sesungguhnya.
Ketahuilah,
kata (mungkin) di atas lebih tepat diganti menjadi SEBENARNYA!
Islam
sekarang ini diuji dengan fitnah yang sangat berat. Barat mendengar
Islam yang identik dengan kata: teroris, kejam terhadap perempuan,
fundamental, radikal, sadis, brutal, dan sentimen negatif lainnya.
Sayangnya,
masyarakat Barat hanya menjadi konsumen berita yang hanya menerima
dan mengiyakan saja informasi di atas. Banyak dari mereka yang
langsung percaya tanpa klarifikasi dan cek ulang terhadap informasi
yang mereka dengar. Akhirnya, mereka pun tidak mengenal Islam, atau,
mengenal Islam tapi dalam gambaran yang salah.
Mereka
salah, dong?
Tidak.
Kita juga salah!
Jika
dakwah kita mampu menyaingi derasnya arus media yang salah dalam
menggambarkan Islam, pasti masyarakat Barat tidak akan salah paham
terhadap Islam. Sekarang pertanyaannya: mana yang lebih deras, dakwah
Islam yang benar ATAU media yang penuh dengan fitnah?
Tentu,
dakwah kalah deras.
Dakwah
sekarang ini kalah karena tidak ada yang mau memperjuangkannya. Umat
Islam merasa bahwa dakwah hanyalah tugas para ulama cendekia.
Sedangkan, umat Islam dengan ilmu pas-pasan tidak berkewajiban untuk
berdakwah. Padahal, itu adalah kewajiban SETIAP muslim.
Jadi,
masih menolak kewajiban dakwah?
Cara Berdakwah
Dakwah
memiliki banyak sekali ragam dan bentuk.
Dakwah
tidak melulu berupa pidato panjang lebar di depan publik. Dakwah
secara garis besar memiliki 3 macam utama:
-
Dakwah bil-qoul دعوة بالقوول
-
Dakwah bil-hal دعوة بالحال
Pertama,
dakwah bil-qoul. Artinya adalah mengajak dengan lisan. Nasihat,
pidato, sindiran, ajakan adalah bentuk dari dakwah yang pertama ini.
Tentunya, pendakwah harus mampu menyampaikannya dengan cara yang
tepat kepada orang yang tepat di saat yang tepat. Kesalahan metode
dalam berdakwah akan berujung pada kegagalan.
Kedua,
dakwah bil-hal. Artinya dakwah dengan perbuatan, aksi, dan tindakan
yang nyata. Hal ini merupakan tindak lanjut dari dakwah yang pertama.
Sangat sia-sia dan mengecewakan, kita menyeru pergi ke masjid,
sementara kita masih shalat jamaah di kamar. Dakwah ini juga memiliki
pengaruh yang sangat besar terhadap penerima dakwah, meskipun tidak
didahului dengan dakwah dengan lisan.
Ringkasnya,
dakwah memiliki banyak cara yang bisa kita tempuh.
Shalat
di masjid berjamaah tepat waktu adalah dakwah bagi teman sekamar.
Berkata
lemah lembut dan berbuat baik adalah dakwah yang efektif terhadap
non-muslim yang lebih tua.
Mengucapkan
salam adalah dakwah yang paling mudah ketika bertemu teman di jalan.
Dakwah
itu mudah, bukan?
Metode Dakwah ala Qur'an
Qur'an
telah mengajarkan dari ayat pertama di atas:
“ Serulah
(manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan
pelajaran yang baik (mau'izoh hasanah) dan
bantahlah (debat) mereka dengan
cara yang baik...” (QS. An-Nahl:125).
Ada
3 cara di atas:
-
Hikmah
-
Mauizoh Hasanah
-
Mujadalah
Metode pertama,
hikmah, adalah menyampaikan 'ucapan yang tepat dan benar'
serta dapat diterima oleh rasio/akal. Cara ini tepat untuk
orang-orang intelektual yang berpikir kritis.
Mauizoh hasanah,
merupakan ajakan dan nasihat yang baik, lemah-lembut, dapat menyentuh
hati dan perasaan, serta mudah dipahami. Metode ini sangat cocok
untuk orang awam, yang belum dapat berpikir kritis dan mendalam. Di
antara bentuknya adalah motivasi, pujian, dan peringatan.
Terakhir, mujadalah,
yang artinya adalah bertukar
pikiran, dialog, diskusi, atau debat guna mendorong supaya berpikir
secara sehat dan menerima kebenaran (Islam) dengan cara menyampaikan
argumentasi yang lebih baik untuk mengatasi argumentasi lawan debat.
Cara demikian cocok buat golongan yang tingkat kecerdasannya di
antara kedua golongan tersebut. Perdebatan disampaikan dengan cara
yang lembut, bukan cara yang keras dan kasar.
Dalam
hadis nabi juga mengajarkan cara berdakwah:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ ، وَذَلكَ أَضْعَفُ الِإيْمَانِ
- رواه مسلم -“Barang siapa di antara kamu yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan tangannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan lisannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah dengan hatinya, dan itulah keimanan yang paling lemah.” (HR. Muslim no. 49)
Tangan artinya
kekuasaan dari seorang pemimpin atau pihak berwenang.
Lisan artinya dengan
ucapan, tulisan, artikel, demonstrasi, spanduk, poster, dan media
lain.
Hati artinya tidak
menyetujui kemungkaran dalam kalbu, tetapi tidak memiliki kekuatan mengubahnya
dengan tangan maupun lisan.
Dakwah Modern
Media
dakwah sekarang tidak hanya terbatas pada lisan dan hubungan langsung
antar manusia. Melalui media modern kita bisa berdakwah dengan mudah,
bahkan dengan jangkauan yang lebih luas.
Jenis
media modern di antaranya:
-
Media AudioRadio, podcast, lagu, nasyid, rekaman ceramah, telefon, interkom, pengeras suara.
-
Media VisualTelevisi, film, iklan, sinetron, short-movie, video.
-
Media CetakKoran, majalah, tabloid, buletin, poster, stiker, banner, baliho, mading, buku.
-
Media OnlineFacebook, Twitter, website, mailing-list, streaming (ceramah/radio/TV), e-mail, blog, chat Skype.
Media
di atas bisa kita manfaatkan sebagai alternatif dari pidato dan
ceramah di masjid, majlis taklim, balai pertemuan, atau tempat publik
lainnya.
Jadi?
Manusia
modern punya banyak cara dalam berdakwah. Tidak ada lagi alasan untuk
menolak untuk berdakwah. Ini adalah kewajiban untuk setiap muslim
yang harus disampaikan, sekecil apapun itu.
Semua
macam dakwah memiliki 2 pesan utama: Amar Ma'ruf dan Nahi Mungkar.
Menyeru
dan menyuruh kepada hal yang ma'ruf (kebaikan), serta melarang
dan mencegah dari hal yang mungkar (keburukan).
Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam menegaskan:
"Barangsiapa yang menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti orang yang mengerjakannya" (H.R. Muslim)"Bahwasanya manusia itu bila mengetahui orang berbuat zalim kemudian mereka tidak mengambil tindakan, maka Allah akan meratakan siksaan kepada mereka semua" (H.R. Abu Daud, Tirmidzi dan Nasa'i)."Demi Tuhan yang jiwaku berada dalam kekuasaan-Nya, kamu harus sungguh-sungguh menyuruh kebaikan dan mencegah kemunkaran, kalau tidak Allah akan menurunkan siksaan kepadamu, kemudian kamu berdoa kepadaNya, maka tidak akan dikabulkan doamu itu" (H.R. Tirmidzi).
Akhir
kata, kita kutip kata dari sang penakluk dari
Prancis, Napoleon
Bonaparte:
"Hancurnya sebuah negara bukan karena banyaknya orang jahat yang ada di dalam negara itu, tetapi karena diamnya orang-orang baik.”
Kamis, 21 April 2016
Jumat, 01 April 2016
H-10 Jelang Ujian Tulis Siswa Akhir KMI Gontor Dua
DARUSSALAM – Pekerjaan
seseorang mempengaruhi hal yang akan terjadi. Apabila pekerjaan
tersebut baik, maka hasil yang akan dicapai pun baik, begitupun
sebaliknya. Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) mendidik santrinya
untuk terus melaksanakn pekerjaan yang baik, agar mencapai hal-hal
yang berkualitas. Sehingga tidak heran sekolah ini menjadi salah satu
sekolah terbaik di Indonesia. Proses belajar-mengajar di pondok ini
langsung dibimbing oleh para asatidz, hal itu bertujuan untuk
meningkatkan kekeluargaan antara santri dan guru.
Generasi 90, atau sering
disebut Identity Generation, adalah generasi para mundziru-1-qaum
yang mana akan terjun terjun langsung pada masyarakat luar.
Setelah lama belajar dari
kelas 1 sampai mereka di kelas 6, semua apa yang kita pelajari
tesebut akan diuji melalui tes ujian akhir Kulliyatul Mu'allimin al
Islamiyyah (KMI). Adapun rentetan ujian ini ada 4 gelombang, yang
terdiri dari ujian tulis semester 1, ujian Tarbiyyah 'Amaliyyah,
ujian lisan, dan ujian tulis semester 2. Materi yang akan diuji pada
ujian akhir (gelombang 4) ini adalah semua pelajaran yang belum diuji
pada semester 1 yaitu dari pelajaran kelas 1 sampai kelas 6 tentunya.
Oleh karena itu, banyak yang sibuk dalam mempersiapkan ujian ini,
mulai dari santri, hingga para asatidz.
Tujuan diadakannya ujian
ini adalah untuk mengetahui kemampuan para santri yang telah belajar
selama 4 dan 6 tahun ini, sekaligus menjadi persiapan mereka sebelum
berkecimpung dalam masyarakat setelah alumni di masa pengabdian.
Persiapan dari staf
KMI sangatlah banyak, karena ujian kelas 6 tetap berlanjut tanpa
henti, mulai dari ujian Tarbiyyah 'Amaliyyah hingga ujian akhir,
yaitu ujian tulis. Kepadatan kegiatan tersebut menyebabkan pembagian
waktu kurang terkontrol, dan ini merupakan kendala utama dalam
kegiatan ini.
Selain itu, KMI juga
membagi pekerjaan, ada yang bertugas menjadi panitia ujian, dan ada
juga yang mengatur kegiatan belajar mengajar para santri. Ketua
panitia ujian kelas ialah Al-Ustadz Firjon Muhammad dengan bantuan
oleh Al-Ustadz Dzulkifli, Al-Ustadz Sidi Ahmad Nashih, dan Al-Ustadz
Rizka. Sedangkan lainnya berfokus pada kegiatan belajar santri.
Ujian akan dibuka
langsung olah Bapak Pengasuh, dan ini hanya untuk para santri kelas
6. Rencananya, ujian akan menggunakan 8 atau 9 kelas, dan ujian lisan
akan menggunakan berapa tempat di Masjid dan aula pertemuan. Hal ini
karena jumlah santri kelas tahun ini berjumlah 169 santri, sehingga
di setiap kelas akan ada 20 orang.
Sementara itu bagi santri
yang sakit kelas 6 yang sakit, akan dilihat terlebih dahulu
penyakitnya, apabila penyakitnya berat, maka akan ditempatkan di
Bagian Kesehatan Santri (BAKES). Santri yang hanya menderita penyakit
ringan, akan dipaksa mengikuti ujian di ruangan ujian.
Persiapan kelas 6 untuk
menghadapi ujian tersebut mungkin sudah cukup baik, karena setiap
kali mereka belajar, mereka diwajibkan untuk menghafal dan menyetor
hafalannya tersebut kepada para pembimbing. Selain itu, ujian lisan
juga menjadi tolak ukur dalam menghadapi ujian tulis tersebut.
Bagi para kelas 6, ujian
ini adalah ujian yang paling menantang, karena akan diuji 28 materi,
dari pelajaran kelas 1 sampai kelas 6.
Harapan para asatidz ada
ujian ini adalah semoga akan menjadi lebh baik daripada tahun
sebelumnya, dan ini juga harus dibutuhkan perkembangan, “Hal yang
tidak berkembang, lebih baik tidak ada, maka ujian tahun ini harus
lebih baik dan banyak perkembangan,” ujar narasumber Al-Ustadz
Dzulkifli.
Mulai hari Sabtu (27/3)
pagi, para santri kelas 6 akan menghadapi ujian lisan. Ujian ini
merupakan salah satu rentetan dari ujian akhir KMI, ujian ini berbeda
dengan ujian lisan kelas 1 sampai 6, tapi ujian tersebut menggunakan
sistem per kelompok. Para santri kelas 6 akan dibagi menjdi 14
kelompok, yang mana setiap kelompok terdiri dari 12 orang. Setiap
kelompok akan memasuki ruangan ujian 2 orang sekaligus. Maka mereka
akan belomba-lomba dalam menjawab soal ujian tersebut dan barang
siapa yang menjawab banyak, maka nilainya pun banyak. Tapi tahun ini
akan nada santri yang hanya masuk sendirian, disebabkan jumlah mereka
yang ganjil.
Materi yang akan
diujikan ada 7 materi, yaitu materi Bahasa Arab I, Bahasa Arab II,
Bahasa Inggris, Tauhid, Tarbiyyah, Fiqh, dan Al-Qur'an. Segalnya
membutuhkan tenaga dan pikiran yang banyak.
“Teruslah belajar,
banyak ilmu-ilmu baru yang belum kalian ketahui, jangan sampai kalian
menunggu ilmu datang kepada kalian, karena itu tidak mungkin.
Tingkatkan diri kalian, dengan banyak ujian. Ujian itu bukan hanya
menjawab soal, tetapi mendengar, melihat, membaca, dan mempelajari
itu semua dari ujian. Oleh karena itu, lakukanlah perbuatan baik,
agar orang lain dapat mencontohimu”, pesan Al-Ustadz Dzulkifli
kepada santri di akhir wawancaranya.
Langganan:
Postingan (Atom)




